bih.button.backtotop.text

Jika Ada Kemauan, Pasti ada Jalan: Melawan Kanker Dengan Tekad Anda

Selain berada di tangan dokter yang tepat, kekuatan pikiran bisa menjadi faktor penting dalam perang melawan kanker. Mempunyai harapan, bersama dengan tekad dan kesabaran dapat berkontribusi pada keberhasilan menuju pemulihan. Pada Hari Kanker Sedunia tahun ini, Horizon Regional Cancer Center di Rumah Sakit Bumrungrad menyatakan keinginan kami untuk merawat pasien kanker dan ikut serta dalam memperkuat kemauan agar selaras dengan moto “I Am and I Will'. Harapan, bersama dengan tekad, adalah kekuatan yang berbeda dari yang lain.


Selain dari teknologi medis yang canggih, tekad adalah salah satu senjata paling ampuh dalam memerangi kanker. Dibutuhkan kemauan yang sangat besar untuk berani menjalani pemeriksaan tubuh, serta untuk dapat didiagnosis, apalagi melewati rintangan selama perawatan. Dibutuhkan kemauan yang kuat untuk mempertimbangkan cinta dari keluarga, orang-orang yang tercinta dan merubahnya menjadi ketangguhan. Seperti yang dikatakan oleh Plato, lebih dari 2.000 tahun yang lalu “Karena mereka mengabaikan keseluruhan. Karena sebagian tidak akan pernah baik kecuali keseluruhannya baik”, Mengacu pada korelasi yang dalam antara tubuh dan pikiran. Dapat dikatakan bahwa kesehatan yang baik adalah hasil dari kombinasi yang terjalin antara pikiran yang sehat dan tubuh yang sehat.

 
'Hasrat untuk Berani dalam Pemeriksaan
Secara statistik, muncul hampir 18 juta kasus kanker baru di seluruh dunia dalam setahun. Terlepas dari angka yang mengejutkan itu, lebih dari 40% kanker dapat dicegah dengan tingkat kelangsungan hidup yang tinggi. Menjaga kesehatan dan melakukan pemeriksaan rutin sangat membantu dalam mendiagnosis dini dan menghentikan kanker sejak awal. Misalnya, kanker payudara adalah mudah dideteksi dengan mammogram dan, jika ditemukan dalam stadium awal, tingkat kelangsungan hidup 5 tahun mencapai 99-100%.
 

"Hasrat" untuk Tangguh
 
Tin-May-Lwin_Paint.jpg
 
Pikiran dapat menciptakan keajaiban dan memiliki efek yang luar biasa dalam memerangi kanker, dengan bantuan pengobatan modern. Langkah pertama menuju pemulihan adalah ketangguhan pasien dalam memilih untuk hidup dengan harapan. Seperti yang dikatakan oleh Profesor Tin May Lwin dari Universitas Computer Studies dari Yangon, yang telah berjuang selama lebih dari 20 tahun, “Keadaan pikiran kita sangat penting untuk proses pengobatan. Jika kita yakin bahwa kita akan sembuh, kita akan sembuh. Percayalah, jika Anda berpikir bahwa Anda tidak akan berhasil, Anda tidak akan berhasil. Saya memilih untuk hidup bahagia. Meskipun pada saat itu saya juga menderita penyakit jantung dan diabetes, saya tidak membiarkannya merampas kegembiraan dari saya".

Ketahanan ini memupuk keinginan untuk berkembang, bahkan ketika kanker mendatangi orang yang dicintai dalam keluarga. Hal ini terjadi pada Srey Ly, seorang pengusaha wanita Kamboja yang menjalani penyembuhan penuh dari kanker nasofaring, hanya untuk mengetahui bahwa saudara laki-lakinya mengidapnya. "Apa yang akan terjadi, maka terjadilah. Jika sesuatu telah terjadi, kami tidak dapat menahannya supaya tidak terjadi. Kami hanya harus berjuang untuk melewatinya, dan terus bergerak. Jika kanker menimpa anak saya seperti yang terjadi pada saya, saya akan melakukan segalanya untuk menyembuhkannya. " ujar Srey Ly.
 

"Hasrat" untuk Memperjuangkan Apa yang Anda Cintai

 
Razia-Nasreen-Sultana_Paint.jpg
 
Ketika pikiran Anda menderita, tubuh Anda akan merasakannya; percaya atau tidak, stres memang memiliki gejala fisik. Dipercayai bahwa menjadinya putus asa sebenarnya dapat memperburuk kondisi lebih lanjut, dan juga, memiliki harapan dan kemauan untuk hidup dapat memperbaiki kondisi secara drastis, bahkan lebih dari yang diharapkan dokter dalam beberapa kasus. Bagi banyak orang, keinginan untuk hidup tidak datang dari tempat lain selain cinta dari keluarga. Razia Nasreen Sultana, seorang penderita kanker payudara berusia 62 tahun dari Bangladesh, hanya memiliki satu niat selama perawatan kankernya: yaitu untuk bertemu keluarganya lagi. “Meskipun kemoterapi penuh dengan penderitaan, yaitu sakit kepala, mual, ketidakmampuan untuk menahan makanan, ada satu hal yang membuat saya terus maju; bisa bertemu dengan putri saya, dan untuk bertemu dengan cucu saya. Mereka adalah segalanya dalam hidup saya. Mereka adalah alasan mengapa saya bisa bertahan melewati penderitaan dari pengobatan”. ujar Nyonya Razia.

Di samping cinta untuk orang lain dapat memperkuat hasrat untuk hidup, cinta yang kita miliki untuk diri kita sendiri juga dapat mendorong kita untuk memerangi kanker. Miss Nguyen Thi Man, seorang wanita pengusaha real estate berusia 53 tahun dari Vietnam yang suka menyanyi, menceritakan hal ini. “Saya pernah mendengar bahwa jika tumor itu diganggu, ia akan segera menyebar ke seluruh tubuh, jadi saya menahan diri untuk tidak segera mengambil keputusan tentang pengobatan. Namun, ketika ibu saya meninggal karena kanker, saya memutuskan untuk tidak membiarkan diri saya menjadi korban kanker seperti dia, karena saya memiliki keluarga yang harus diurus. Hal lain yang tidak tega saya lepaskan adalah kesukaan saya untuk bernyanyi, karena menyanyi adalah cinta sejati dalam hidup saya. Saya bahkan memenangkan hadiah di kompetisi menyanyi. Saya sangat senang setiap kali naik ke panggung untuk menyanyi dan bersenang-senang dengan teman-teman saya". kata Miss Thi Man, sekarang sembuh dari kanker dan mengikuti kompetisi menyanyi.

Seperti disebutkan di atas, elemen psikologis dan fisik tubuh sangat terkait. Apalagi saat melawan penyakit, pikiran perlu diperkuat agar tubuh berani menerobos badai. Pada Hari Kanker Sedunia tahun ini, Horizon Cancer Center menyatakan keinginan kami untuk merawat pasien kanker dan ikut serta dalam memperkuat kemauan untuk menyelaraskan dengan moto “I Am and I will”. Harapan, bersama dengan tekad, adalah kekuatan yang berbeda dari yang lain.
 

Related Health Blogs