Studi Elektrofisiologi Jantung

Studi EP dan pengobatan aritmia jantung

Studi EP dan pengobatan aritmia jantung

Sebuah teknik baru untuk mendeteksi aritmia adalah alat yang hebat untuk mendiagnosa dan mengobati banyak permasalahan jantung.

Aritmia jantung dapat digambarkan seperti seorang pembunuh yang mengambil nyawa korbannya secara diam-diam, gejalanya dapat terjadi secara acak dan kadang tidak dapat terdeteksi dalam diagnosis. Hal ini berarti bahwa pasien dapat secara tidak sadar tidak mendapat perawatan yang semestinya mereka butuhkan. Bahkan bagi seorang ahli jantung, mendiagnosa aritmia secara akurat adalah sebuah tantangan, dibutuhkan kombinasi antara kemajuan teknologi medis dan juga pengalaman serta keahlian dokter tersebut.

Aritmia jantung disebabkan oleh terjadinya korslet pada system elektrik yang mengatur ritme detak jantung. Tantangan ini dijawab oleh ditemukannya studi electrophysiology (EP Study), sebuah kemajuan teknologi medis yang berperan sangat penting dalam mendiagnosa dan mengobati aritmia jantung di seluruh dunia. Untuk membantu kita lebih memahami kemajuan teknik pengobatan yang ditawarkan oleh studi EP, majalah Better Health berbincang dengan Dr. Koonlawee Nademanee, seorang professor ahli obat-obatan dan jantung, cardiologist dan juga electro-physiologist bersertifikat American-board yang telah dikenal di seluruh dunia karena pengalamannya selama 30 tahun dalam mendiagnosa dan juga mengobati pasien yang menderita aritmia jantung di Thailand dan juga di Amerika Serikat.

dr-koonlawee.jpg


“ Dengan pemetaan elektrik yang akurat, kami dapat mengidentifikasi lokasi pasti dimana ritme yang abnormal tersebut terjadi lalu melakukan pengobatan secara tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut.”

Dr. Koonlawee Nademanee

“Aritmia jantung adalah kondisi dimana ada kelainan ritme jantung yang dapat berdetak lebih cepat, lebih lambat, maupun secara tidak teratur”, terang Dr. Koonlawee. “Ada banyak jenis dari aritmia jantung. Beberapa aritmia bersifat jinak, namun beberapa lainnya sangatlah berbahaya dan dapat mengancam keselamatan jiwa pasien, misalnya adalah ventricular tachycardia/ventricular fibrillation dan juga atrial fibrillation. Itu adalah beberapa jenis aritmia jantung yang paling sering dijumpai dan memerlukan intervensi medis sesegera mungkin.”

Fibrilasi atrial adalah hal yang sering terjadi pada mereka yang berusia lanjut. Mereka yang berusia lebih dari 75 tahun lebih beresiko 13 kali lebih rentan dibandingkan dengan mereka yang berusia 50 atau lebih muda. “Penyebab aritmia jantung dapat bervariasi dari orang ke orang,” kata Dr. Koonlawee. “Hal ini dapat terjadi dikarenakan oleh cacat jantung bawaan atau struktur jantung abnormal yang mempengaruhi system elektrik dan secara langsung mempengaruhi otot pada jantung, seperti misalnya penyempitan pembuluh darah arteri maupun serangan jantung. Tekanan darah tinggi, kelainan thyroid, maupun ketidakseimbangan elektrolit dapat juga menyebabkan impuls elektrik jantung menjadi kacau.”

Gejala yang nampak dari aritmia jantung dapat termasuk juga jantung yang berdetak kencang, berdebar-debar, dan kepala terasa ringan. “Meskipun hal ini tidak selalu berarti bahwa anda memiliki aritmia jantung ketika anda merasakan gejala tersebut, akan menjadi hal yang bijaksana apabila anda memutuskan untuk melakukan check-up medis,” saran Dr. Koonlawee. “

ep-lab-thailand.jpg
Studi EP dan juga aritmia jantung

Untuk mendiagnosa penyebab sebenarnya dari aritmia jantung dan membantu untuk menentukan pilihan pengobatan yang terbaik, sebuah studi EP biasanya direkomendasikan kepada pasien dengan gejala indikatif dari aritmia jantung dan mereka yang dalam resiko terkena serangan jantung. Kemajuan dalam teknologi pencitraan medis dan juga software terkait, termasuk juga dengan pemahaman yang lebih baik akan fungsi hati, telah berkontribusi akan manfaat studi EP.

“Studi EP adalah sebuah pelajaran yang membantu untuk mendiagnosa dan mengobati pasien yang menderita aritmia jantung,” kata Dr. Koonlawee. “Selama studi EP, elektroda akan dipasang pada bagian dada pasien untuk mengawasi detak dan ritme jantung. Lalu sebuah kateter yang dapat dikendalikan dimasukkan ke dalam jantung. Ketika kateter telah diposisikan, sebuah tes elektrik jantung dilakukan untuk mendapat informasi lebih lanjut mengenai system konduksi jantung.”

Informasi yang didapat dari studi EP dikombinasikan dengan pencitraan jantung kemudian disinkronisasikan menggunakan software yang mutakhir, bersama dengan pengalaman diagnosa yang dimiliki oleh dokter akan memungkinkan dokter untuk melihat abnormalitas dan kemudian mengobatinya dengan energy radiofrequency yang dihasilkan dari bagian ujung kateter.

“Dengan pemetaan elektrik yang akurat, kami dapat mengidentifikasi lokasi pasti dimana ritme yang abnormal tersebut terjadi lalu melakukan pengobatan secara tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut.” kata Dr. Koonlawee.

“Pencitraan virtual dari jantung yang dihasilkan oleh studi EP memberikan gambaran fungsi pompa jantung secara real-time. Dokter dapat memiliki sebuah pandangan tiga dimensi, 360 derajat, dari jantung virtual anda yang dilengkapi juga dengan aktivitas elektrik jantung. Ketika abnormalitas telah ditemukan, abnormalitas tersebut akan diberi tanda dengan kode warna. Kemudian energi radiofrequency akan dipancarkan dari bagian ujung kateter untuk menghancurkan jaringan abnormal yang menyebabkan aritmia, dengan demikian ritme detak jantung dapat kembali seperti semula.”

Mengobati aritmia jantung

Mendiagnosa dan mengobati aritmia jantung dengan studi EP telah memberikan harapan kepada pasien yang menderita beberapa jenis aritmia tertentu. “Studi ini dapat menawarkan sebuah kesembuhan total bagi beberapa pasien aritmia jantung dikarenakan kita dapat mengeliminasi penyebab dasar dari permasalahan tersebut. Namun, bagi mereka yang pernah mengalami serangan jantung dan kemudian mengakibatkan adanya luka di jantung, studi EP tidak akan dapat mengubah luka tersebut atau mengembalikannya ke kondisi semula. Akan tetapi, studi EP dapat mengidentifikasi sumber aritmia yang menyebabkan kelainan ritme jantung yang dapat membahayakan nyawa pasien dan kemudian memandu seorang operator untuk memperbaikinya. Namun apabila pasien terus memiliki resiko serangan jantung di masa depan, pasien tersebut akan tetap dalam resiko untuk mempunyai aritmia jantung di waktu yang akan datang,” kata Dr. Koonlawee.

“Adalah hal yang sangat penting untuk dicatat bahwa studi EP hanya membantu untuk memperbaiki ritme jantung abnormal dan studi ini tidak akan membantu untuk menyelesaikan permasalahan jantung yang lain. Jika pasien memiliki tekanan darah tinggi, penyempitan arteri jantung, maupun bekas luka di jantung, studi EP tidak dapat memperbaiki kondisi tersebut. Perlu dicatat juga bahwa meskipun pasien akan mengalami kualitas hidup yang jauh lebih baik setelah pengobatan, mereka tetap harus mengambil langkah pro aktif untuk mengurangi resiko dan penyakit jantung yang lain.”

Aritmia jantung dapat terjadi kapan saja secara acak dan ketika aritmia dibiarkan tidak terdeteksi maupun tidak dirawat, hal tersebut dapat berakhir pada kerusakan permanen jantung. Jika anda mengalami gejala seperti detak jantung yang berdebar kencang, berkeringat secara tidak wajar, maupun kepala terasa ringan dan pusing, maka anda harus mendiskusikan hal ini pada dokter anda sesegera mungkin. Mungkin saja studi EP dapat berperan penting dalam proses pendiagnosaan dan juga pengobatan jantung anda secara lebih lanjut.


ep-study.jpg

 

Posted by Bumrungrad International