Tidak serius tetapi kronis

Mengetahui dan mengenal Sindrom Iritasi Usus Besar (IBS)

Gejala-gejala sakit perut, sembelit dan diare kronis yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan pengobatan medis mempengaruhi banyak orang.
 
Apa yang bisa dilakukan penderita jika mereka memiliki kondisi ini, yang dikenal dengan sindrom iritasi usus besar (IBS)?
 
Sindrom iritasi usus besar (Irritable Bowel Syndrome/IBS) adalah penyakit yang sering didiagnosa sebagai penyebab masalah pencernaan pada banyak pasien. Tetapi, yang mengejutkan, banyak pasien yang salah mengartikan gejala ini dengan penyakit yang lain, seperti gangguan perut, sembelit, dan diare.
 
Better Health berbicara dengan Dokter Suriya Chakkapak, seorang dokter bedah spesialis Gastroenterologi dan Hepatologi, untuk membantu anda mengenal lebih baik penyakit Sindrom Iritasi Usus Besar.
 
IBS irritable bowel syndrome

Apa itu Sindrom Iritasi Usus Besar?

IBS adalah gejala-gejala yang terjadi karena gangguan fungsi usus, tetapi tidak ada gangguan fisik usus (tumor, kanker, peradangan, atau kondisi lain, dll) yang bisa diidentifikasi sebagai penyebabnya, Dr. Suriya menjelaskan.
Gejala utama pasien IBS adalah sakit perut kronis dan sakit perut, yang selalu muncul dan hilang selama lebih dari enam bulan, yang berhubungan dengan gangguan kebiasaan buang air besar.

Kategori gejala IBS:

  • Kelompok diare;
  • Kelompok sembelit;
  • kelompok diare yang bergantian dengan kelompok sembelit;
  • Jenis campuran yang bergantian dengan komplikasi dan diare.
"Kebanyakan pasien IBS mempunyai rasa tidak nyaman di perut – terutama rasa nyeri di perut bagian bawah, baik di sisi kiri atau kanan - bersamaan dengan gejala sembelit atau diare," kata Dr Suriya. "Dalam beberapa kasus pasien merasakan mencret atau diare yang terjadi terus menerus selama beberapa hari, yang menambahkan rasa tidak nyaman dan rasa cemas pada pasien. Tetapi pasien yang mengalami sembelit yang berhubungan dengan IBS memiliki gejala masalah pencernaan yang berbeda. Sebagai contoh, seorang pasien dengan gangguan umum akan merasa sakit perut atau merasa tidak nyaman secara bersamaan. Namun, setelah buang air besar, rasa sakit atau rasa tidak nyaman pada perut akan berkurang."
 
Pasien dengan gejala IBS tidak memiliki indikator utama kondisi yang berbahaya, seperti tinja berlendir atau tinja berdarah, penurunan berat badan, muntah, pengecilan ukuran tinja atau tenesmus rektal (perasaan terus-menerus mengeluarkan tinja).

 

Dr. suriya chakkapak gastroenterology  

“Kebanyakan pasien IBS menemui dokter dan mengeluhkan rasa sakit dan tidak nyaman pada perut—terutama rasa sakit pada perut bagian bawah, baik di bagian  kanan atau kiri—bersamaan dengan gejala sembelit atau diare.

 

Dokter Suriya Chakkapak

Penyebab dan diagnosa

Walaupun IBS adalah penyakit perut yang sering didiagnosa, komunitas medis masih belum bisa mengidentifikasi penyebab pasti dari penyakit ini. Perkiraan terbaik yang ditemukan oleh dokter adalah sebuah mekanisme yang tidak diketahui yang menyebabkan sensitifitas saraf pada motilitas pencernaan (gerakan makanan melalui sistem pencernaan) pada saluran pencernaan.
 
Walaupun belum diketahui penyebabnya, dokter sudah mengenal lebih baik karakteristik dan efek dari IBS sehingga dokter bisa mendiagnosa dengan lebih baik. “Untuk mendiagnosanya, pertama-tama kami memulai dengan melakukan tes darah dan tinja, riwayat kesehatan pasien dan anggota keluarga yang mengidap kanker usus besar atau kanker gastrointestinal,” kata Dokter Suriya.”  Prosedur ini membantu kami memisahkan dan mengklasifikasi gejala-gejala untuk meyakinkan kami kalau pasien mengidap IBS.”
 
Mengenai pengunaan endoskopi (perangkat kamera tubular untuk melihat saluran pencernaan) untuk melakukan diagnosa, Dokter Suriya mengatakan endoskopi tidak perlu dilakukan jika pasien tidak memiliki faktor resiko yang pasti untuk kondisi yang lebih serius. Faktor risiko Yang mengindikasikan untuk melakukan kolonoskopi adalah jika pasien berusia lebih dari 40 tahun, meningkatnya resiko kanker usus besar, atau memiliki riwayat sembelit untuk waktu yang lama.
 
Setelah berbagai macam pemeriksaa dilakukan dan menyimpulkann kelainan fisik yang serius, dokter kemudian bisa mendiagnosa pasien dengan IBS.
 

Pengobatan Gejala IBS

Karena IBS tidak memiliki penyebab yang pasti, dokter akan memfokuskan untuk mengobati gejala yang dialami oleh pasien, seperti meresepkan obat pencahar, obat untuk menenangkan kram perut, memberikan antasida dan anti diare. Harap diingat, bahwa pengobatan ini tidak menghilangkan penyebab IBS.
IBS treatment symptomatic

Karena itu, pasien mungkin harus mengalami gejala ini berulang-ulang.
Karena penyebab IBS belum diketahui, Dokter Suriya menganjurkan pasien untuk menghindari resiko-resiko yang bisa menyebabkan gangguan fungsi usus, seperti:
  • Kebiasaan makan yang buruk, termasuk pola makan yang tidak teratur (contoh, tidak sarapan pagi) memakan makanan penuh lemak dan makanan cepat saji, atau makanan yang tidak berserat, atau rendah serat;
  • Kebiasaan atau aktivitas yang bisa menyebabkan stres dan rasa gelisah;
  • Tidak mengobati sakit pada perut hingga menjadi gejala kronis.
“Pasien harus memperhatikan kondisi mereka dan menghindari kebiasaan yang bisa memperburuk gejala IBS,” saran Dokter Suriya. “Sebagai contoh, jika perut anda sakit setelah memakan makanan penuh lemak, maka anda harus menghindari memakannya. Untuk mencegah infeksi saluran pencernaan dan gejalanya, hindari makanan dan minuman yang tidak bersih.”

Rubah kebiasaan anda; ini sangat membantu

Sindrom iritasi usus besar bukan penyakit yang mengancam nyawa dan juga bukan tanda-tanda dari kanker. Pasien dengan IBS bisa menikmati hidup yang panjang, tapi mereka harus menahan penyakit yang datang dan pergi dan ini menyebabkan kualitas hidup yang buruk. Karena gejala IBS tidak bisa sepenuhnya disembuhkan, kebanyakan penderita IBS berada dalam keadaan stres berkelanjutan yang khawatir bahwa mereka memiliki penyakit yang lebih serius. Dalam istilah praktis, misalnya, diare yang berhubungan dengan IBS mengganggu kehidupan sehari-hari pasien karena mereka harus sering pergi ke kamar kecil. 
 
"Metode terbaik untuk mengatasi IBS adalah untuk tidak berpikir bahwa ini penyakit yang berbahaya," kata Dr Suriya. 
 
"Semakin banyak anda merasa stres, gejala ini akan bertambah buruk. Seiring dengan perawatan yang telah ditentukan oleh dokter untuk meringankan gejalanya, pasien harus menyesuaikan perilaku mereka untuk mengurangi gejalanya dan mengurangi frekuensi terjadinya gejala yang berhubungan dengan IBS, "Dr. Suriya menyimpulkan.
 
Memerlukan waktu yang lama untuk menyembuhkan sindrom iritasi usus besar. Mengenal dan mengerti penyakit ini membantu orang untuk memiliki kualitas hidup yang baik.

 

 “Bagaimana cara menghindari IBS?”

Sindrom iritasi usus besar menghasilkan kualitas hidup yang buruk untuk 10% orang yang menderita penyakit ini, dari anak muda sampai orang dewasa, terutama orang-orang usia kerja yang hidup di pusat kota.
Jika Anda ingin menghindari penyakit kronis yang disebabkan oleh IBS, anda dianjurkan untuk mengikuti saran yang mudah dan logis ini:

1. Perlakukan diri Anda dengan baik dan jaga kesehatan dengan berolahraga secara teratur untuk membangun kekebalan terhadap penyakit.

2. Hindari situasi yang bisa menyebabkan stres.

3. Sarapan setiap hari karena itu adalah waktu dimana usus berfungsi paling baik. Setengah jam setelah sarapan, lakukanlah berjalan-jalan  untuk membantu pencernaan sampai Anda merasa perlu ke kamar kecil. Metode ini akan membantu siklus ekskresi kembali normal.

4. Jangan menahan-nahan saat ingin buang air besar. Biasanya, dorongan untuk buang air besar hanya berlangsung selama dua menit. Jika Anda menahannya terlalu lama dorongan tersebuk akan berlalu dan kotoran di usus Anda akan menjadi keras dan usus menyerap kadar air tersebut, dan menyebabkan sembelit.

5. Makanlah berbagai jenis makanan dari kelima kelompok makanan dalam jumlah yang tepat, terutama makanan berserat, seperti sayur dan buah-buahan, yang membantu proses pengeluaran.
 
   

 

Posted by Bumrungrad International