Mitos Dan Fakta Mengenai Tulang

Mitos dan fakta mengenai tulang

Membongkar mitos mengenai tulang dan juga sendi

Apabila kita berbicara mengenai kesehatan tulang dan sendi yang banyak dipercaya oleh masyarakat luas, ternyata banyak dari cerita-cerita tersebut yang merupakan kebohongan maupun faktanya hanya separuh benar saja. Mari kita lihat beberapa mitos yang popular di masyarakat dan juga fakta yang membuktikan bahwa mitos tersebut salah.

Kita hidup di zaman dimana informasi dapat dengan mudah kita dapat hanya dengan satu pencetan mouse komputer saja. Hal ini sungguh memiliki banyak manfaat, namun kadang hal ini pula yang membuat kita lebih susah memilah mana informasi yang benar dan mana yang salah. Sekilas pandang terhadap fakta-fakta yang ada dapat menjelaskan bahwa kebanyakan dari mitos yang dipercaya secara luas ternyata tidak benar.

1. Tulang retak dianggap lebih ringan daripada patah tulang.

Banyak orang percaya bahwa tulang retak tak perlu ditanggapi seserius kasus patah tulang. Pada kenyataannya, kedua hal tersebut merupakan hal yang identik. Patah tulang yang parah dapat menyebabkan tulang patah menjadi dua bagian yang terpisah bahkan lebih. Retak yang sifatnya minor melibatkan celah di tulang yang masih tersambung utuh, kadang-kadang disebut juga hairline fracture.

Ada banyak jenis dan derajat parahnya tulang yang retak, tetapi masing-masing jenis dan derajat keretakan tulang melibatkan tulang yang telah patah dan harus diperiksa oleh dokter untuk menilai seberapa parah kerusakannya dan memperbaiki permasalahan yang terjadi.

2. Setelah tulang berkembang secara sempurna, tulang tersebut tidak akan berubah lagi.

Model kerangka tulang yang membantu kita belajar sewaktu anak-anak tidak pernah berubah, tapi untuk orang dewasa, tulang memiliki kapasitas untuk berubah selama masa hidup kita. Sifatnya tulang yang selalu berubah ini dapat dikaitkan dengan osteoblas, sel-sel yang bertanggung jawab untuk menghasilkan massa berat tulang.

Osteoblas bereaksi ketika tulang berada di bawah tekanan. Mereka membantu meningkatkan kekuatan tulang untuk melawan tekanan tersebut, terutama di dalam dan juga di sekitar sendi di mana tekanan tersebut terkonsentrasi. Latihan beban seperti jogging yang dilakukan secara cukup adalah cara yang efektif untuk membantu merangsang produksi tulang. Hal ini membantu menurunkan resiko osteoporosis dan mendukung pemulihan yang lebih cepat bagi pasien dengan masalah yang berkaitan dengan osteoporosis.

3. Osteoporosis adalah sebuah kondisi tulang yang menyakitkan

Osteoporosis adalah penyakit yang menyebabkan hilangnya massa tulang. Tapi terkecuali tulang mengalami keretakan, osteoporosis tidak menyebabkan rasa sakit.

Osteoporosis dapat tidak terdeteksi selama bertahun-tahun. Tanpa menimbulkan gejala-gejala yang bisa dilihat secara nyata, Osteoporosis dapat secara bertahap menggerogoti tulang. Mendeteksi osteoporosis dilakukan dengan menggunakan scan densitometri tulang - sebuah tes yang disarankan untuk mereka yang mulai menginjak usia 40. Scan tersebut merupakan elemen penting dalam pencegahan dan deteksi dini osteoporosis.

4. Arthritis adalah penyakit bagi mereka yang berusia lanjut

Sementara risiko arthritis meningkat seiring dengan bertambahnya usia, namun bukan hanya mereka yang berusia lanjut saja yang memiliki monopoli terhadap penyakit ini. Kondisi sendi yang menyakitkan ini bisa menyerang anak-anak, remaja dan juga orang dewasa dari segala usia.

Memang benar bahwa arthritis dapat diakibatkan dari deteriorasi sendi secara bertahap setelah bertahun-tahun lebih digunakan secara terus menerus. Namun arthritis memiliki banyak jenis dan beberapa kemungkinan penyebab - rheumatoid arthritis, encok, arthritis psoriatis, kecelakaan, infeksi, dll – dan banyak penyebab tersebut dapat muncul bukan berdasarkan faktor usia.

5. Orang dengan arthritis harus berhenti melakukan. . .

Pasien dengan arthritis dapat menghadapi beberapa tantangan dalam menjalankan beberapa kegiatan normal mereka sehari-hari, namun memperlakukan mereka layaknya orang yang tidak berdaya ataupun menganggap mereka selalu membutuhkan bantuan dalam beraktivitas bukanlah jawaban yang tepat.

Cara terbaik untuk merawat seseorang yang menderita arthritis adalah memberikan perawatan secara tepat dan cermat. Hindari perilaku menjadi terlalu protektif agar nantinya tidak mendorong pasien menjadi terlalu tergantung pada anda - situasi yang dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan mental pasien dan juga mereka yang merawatnya.

Posted by Bumrungrad International