Membantu Orang Tua & Anak-Anak Mengatasi Tantangan Epilepsi

Kejang epilepsi pada anak-anak mungkin tampak mengkhawatirkan,

Namun hal tersebut belum tentu berbahaya.

Dengan pengetahuan yang tepat, orang tua dapat membantu

anak-anak mereka mengelola dan mengatasi

tantangan epilepsi pada anak secara lebih efektif.

 

Menyaksikan secara langsung gejala dramatis saat kejang sedang terjadi – tubuh terasa kaku, otot kejang secara tidak terkendali - dapat menjadi sebuah pengalaman yang menakutkan, terutama ketika yang menjadi korban adalah seorang anak kecil. Meskipun keinginan untuk membantu didasari oleh maksud dan itikad yang baik, mengintervensi selama kejang sedang terjadi sebenarnya lebih berkemungkinan untuk berdampak negatif daripada bermanfaat positif bagi sang penderita. Kali ini Better Health memfokuskan pada kebutuhan akan pengetahuan dan pemahaman yang benar agar sebuah perbedaan positif dapat bermanfaat bagi kehidupan anak-anak yang menderita epilepsi.

Mengapa kejang dapat terjadi

"Kejang disebabkan oleh sebuah gangguan pada transmisi elektrik saraf di dalam otak yang dapat menyebabkan perubahan status mental dan hilangnya kontrol fisik," kata Dr. Prinyarat Burusnukul, seorang neurolog pediatrik bersertifikat US board di Bumrungrad. "Epilepsi mengacu pada paling sedikit dua episode kejang yang dapat muncul tanpa adanya provokasi (yaitu kejang yang bukan berasal dari demam, infeksi, atau penyebab lain yang telah diketahui dan dapat diobati). Ini adalah sebuah kesalahpahaman populer yang seringkali menganggap bahwa apabila seseorang mengalami kejang berarti orang tersebut juga dianggap memiliki epilepsi, hal ini terjadi karena kedua istilah tersebut seringkali disebutkan secara bersamaan."

“Ketika seorang anak yang memiliki riwayat kejang dibawa ke rumah sakit, diagnosis epilepsi tidak akan secara otomatis diasumsikan; sebuah diagnostik check-up harus dilakukan. Kejang tersebut mungkin diakibatkan dari ketidakseimbangan glukosa atau elektrolit maupun infeksi-infeksi tertentu seperti meningitis.”

Dr. Prinyarat Burusnukul

dr-Prinyarat.png

Proses diagnostik

 

"Ketika seorang anak yang memiliki riwayat kejang dibawa ke rumah sakit, diagnosis epilepsi tidak akan secara otomatis diasumsikan," catat Dr. Prinyarat. "Sebuah diagnostik check-up secara menyeluruh harus dilakukan untuk secara akurat dapat menentukan apa yang menyebabkan kejang tersebut. Kejang yang terjadi mungkin diakibatkan dari ketidakseimbangan glukosa atau elektrolit maupun infeksi-infeksi tertentu seperti meningitis atau ensefalitis, dalam kasus dimana sebuah tes cairan cerebrospinal mungkin diperlukan bersama-sama dengan tes CT atau MRI scan pada otak.”

"Jika tanda-tanda yang ada mengarah pada epilepsi," Dr. Prinyarat melanjutkan, "riwayat kesehatan anak dan keluarga memainkan peran penting dalam proses diagnosis. Kami akan mengecek kembali riwayat kehamilan, informasi persalinan, rincian perkembangan anak, kinerjanya di sekolah, dan juga sejarah medis sebelumnya dari anak dan keluarga. Dokter juga mempertimbangkan untuk melakukan tes otak seperti EEG dan MRI, yang dapat membantu mengklasifikasikan tipe epilepsi yang diderita dan memungkinkan perencanaan cara pengobatan yang lebih efektif."

Membantu ataukah membahayakan pasien?

Adalah reaksi manusia normal jika anda ingin membantu seorang anak yang tengah mengalami serangan kejang epilepsi. "Biasanya kejang yang terjadi secara singkat itu sendiri bukanlah sebuah hal yang berbahaya," catat Dr. Charcrin Nabangchang, seorang neurolog pediatrik bersertifikat US Board di Bumrungrad dengan pengalaman yang luas dalam merawat anak-anak dengan epilepsi. "Sebuah episode kejang biasanya berakhir dalam beberapa menit."

“Sebelum memutuskan sebuah rencana perawatan bagi anak yang menderita epilepsi, faktor lain yang mungkin dapat memprovokasi terjadinya kejang harus dikesampingkan. Beberapa peristiwa kejang yang diakibatkan karena epilepsi mungkin dapat menyebabkan perawatan menjadi tertunda sampai sang pasien menjalani pemeriksaan fisik secara menyeluruh.”



Dr. Charcrin Nabangchang

Dr-Charchin.png

Setelah kejang telah berakhir, orang tua disarankan untuk segera membawa anak ke dokter sebagai tindakan pencegahan yang normal agar memungkinkan dokter untuk memantau kondisi anak dan menentukan apakah pengobatan memanglah diperlukan, terutama bagi kejang yang terjadi secara berulang kali maupun berkepanjangan. "Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, kejang yang terjadi secara singkat itu sendiri tidaklah berbahaya," tambah Dr. Charcrin. "Namun, kejang yang terjadi secara berulang kali dapat berdampak negatif pada anak dalam hal pengembangan diri, sosialisasi, dan juga kemampuan kognitif.”

"Anak-anak yang menderita kejang secara berulang kali dapat pada akhirnya secara berlebihan menyadari tentang betapa berbedanya mereka dari anak-anak 'normal' lainnya; mereka pada akhirnya memilih untuk mengisolasi dirinya sendiri. Hal tersebut menempatkan mereka pada resiko kemampuan belajar yang kurang, permasalahan perilaku, dan juga kesulitan untuk berkonsentrasi di sekolah."

Kejang yang berbahaya adalah kejang yang berlangsung lebih dari lima menit, dan juga kejang yang disertai dengan tersedak sehingga dapat menyebabkan pasien berhenti bernafas. Kedua kasus tersebut dapat mengancam jiwa karena pasokan oksigen otak terputus. Selain itu, menderita kejang yang berulang sampai beberapa kali dalam sehari dapat berubah menjadi ancaman yang jauh lebih besar dan lebih sulit dikontrol.

Adalah hal yang penting untuk berhati-hati bahwa kejang dapat mengakibatkan bahaya yang signifikan apabila terjadi selama kegiatan atau situasi tertentu. Karena kejang menyebabkan pasien mengalami kehilangan kesadaran akan lingkungan sekitar mereka maka intensitas bahaya dapat naik secara signifikan ketika kejang terjadi saat pasien sedang berenang ataupun memanjat.

Ada kalanya dokter menyarankan untuk 'menunggu secara waspada' daripada langsung memulai pengobatan medis. Meskipun begitu, diagnosis epilepsi secara dini dapat memiliki dampak positif yang besar pada perkembangan anak yang sehat. "Menderita kejang berulang kali tanpa adanya intervensi medis dapat mempengaruhi perkembangan otak anak," Dr. Charcrin memperingatkan, "dan kejang dapat menjadi lebih parah dan kurang dapat dikendalikan."

Pengobatan yang didasarkan dari basis kasus per kasus

Sebelum memutuskan rencana pengobatan bagi anak penderita epilepsi, penyebab kejang lain yang mungkin terjadi harus disingkirkan terlebih dahulu sebelum diagnosis epilepsi dapat dikonfirmasi. Dr. Charcrin menekankan bahwa peristiwa kejang tidak selalu membutuhkan perawatan medis. "Beberapa serangan kejang epilepsi mungkin tidak memerlukan perawatan."

Pengobatan untuk kejang epilepsi merupakan salah satu aspek dari proses pengendalian kondisi pasien. Dokter akan membahas berbagai isu seperti diagnosis, sifat, dan jenis kejang yang dialami pasien, opsi pengobatan dan potensi efek samping, detail dari proses pengobatan, pencegahan dan pertolongan pertama saat kejang terjadi. "Saya biasanya menjelaskan kepada orang tua pasien bahwa tujuan pengobatan ini adalah untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kejang di masa depan," kata Dr. Charcrin. "Beberapa pasien yang mengkonsumsi obat dapat sembuh dari kejang, sementara pasien yang lain masih tetap mengalaminya. Hal ini benar-benar bervariasi dari satu pasien ke pasien yang lain. Untuk pasien yang menjalani pengobatan dan masih mengalami kejang, dokter akan mengevaluasi situasi pasien dan mungkin merekomendasikan penyesuaian obat agar epilepsi dapat dikendalikan secara lebih baik. "

Selain obat pencegah terjadinya kejang, mengambil langkah-langkah untuk menghindari pemicu kejang merupakan elemen penting untuk membantu mencegah terjadinya kejang di masa depan. Pemicu kejang yang paling umum adalah demam, kurang tidur, dan lupa tidak minum obat. "Setelah perawatan dengan obat epilepsi dimulai," Dr. Charcrin menjelaskan, "anak harus secara sering dan seksama dipantau oleh dokter - setidaknya sekali setiap beberapa bulan - untuk memeriksa kemanjuran obat tersebut dalam mengendalikan kejang, untuk mencari kemungkinan efek samping, dan untuk mengkonfirmasi anak dapat tumbuh berkembang secara normal."

Tetaplah tenang

Kedua dokter setuju bahwa sangatlah penting bagi orangtua untuk tetap tenang dan menjaga emosi mereka di bawah kontrol ketika anak mereka sedang mengalami kejang. Jangan panik. Baringkan anak di lantai dan palingkan wajah anak ke arah samping untuk menjaga supaya mereka tidak tersedak dan untuk mencegah jalur pernafasan mereka tersumbat. Hindari menaruh sesuatu ke dalam mulut anak saat mereka sedang kejang untuk menghindari resiko terjadinya cedera berbahaya.

Kejang yang berakhir dalam beberapa menit biasanya bukan keadaan medis yang darurat. Dengan pengetahuan dan perawatan profesional, kejang yang dialami anak dapat dikendalikan dan dapat akhirnya sembuh.

Berbagai penyebab terjadinya kejang

Kejang memiliki banyak kemungkinan penyebab. Apapun yang mengganggu pola normal aktivitas neuron dalam otak – mulai dari penyakit sampai cedera otak hingga perkembangan otak yang abnormal - dapat menyebabkan kejang. Pada orang dengan perkembangan otak yang normal, kejang dapat dipicu oleh faktor-faktor berikut:

  • Demam yang sangat tinggi;
  • Ketidakseimbangan elektrolit;
  • Obat-obatan tertentu;
  • Kurang tidur.

Bagi orang yang memiliki perkembangan otak abnormal, beberapa faktor yang dapat mengakibatkan kejang adalah sebagai berikut:

  • Abnormalitas genetis;
  • Abnormalitas bawaan atau komplikasi kehamilan, termasuk infeksi kehamilan, malnutrisi, penyalahgunaan obat, atau kecelakaan;
  • Cedera kepala karena kecelakaan yang dialami semasa kecil maupun ketika tumbuh dewasa;
  • Tumor otak atau kanker yang sudah mengalami metastase ke otak;
  • Kondisi genetis yang mengakibatkan disfungsi otak, contohnya adalah tuberous sclerosis;
  • Infeksi, termasuk meningitis dan encephalitis;
  • Stroke atau hal lain yang dapat menyebabkan cedera pada otak.

Tips pertolongan pertama pada kejang epilepsi

  • Tetaplah tenang, jangan panik;
  • Jika anak dalam posisi duduk, baringkan anak di lantai dan palingkan wajah anak ke arah samping untuk menjaga supaya mereka tidak tersedak dan untuk mencegah jalur pernafasan mereka tersumbat;
  • Singkirkan benda tajam atau keras dari jangkauan anak selama ia kejang;
  • Longgarkan baju yang ketat, singkirkan benda di area sekitar supaya ada ventilasi udara yang lebih baik;
  • Coba turunkan temperatur jika anak mengalami demam;
  • Jangan tahan atau ikat anak;
  • Jangan taruh benda apapun kedalam mulut anak. Benda tersebut dapat menyebabkan cedera gigi dan dapat pula mengarah ke penyumbatan saluran pernafasan yang dapat berakibat fatal;
  • Catat seberapa lama kejang tersebut terjadi dan gejala spesifik yang terjadi. Rekam dalam video jika memungkinkan, karena hal ini dapat berguna untuk membantu dokter;
  • Bawa anak ke dokter setelah kejang selesai;
  • Jika kejang terjadi lebih dari lima menit, atau jika anak tidak lanjut bernafas/ tidak kembali sadar ketika kejang telah berakhir, segeralah cari bantuan medis.

Absence seizures

Meskipun umumnya kejang menghasilkan gejala seperti gerakan menyentak dan tidak wajar lalu otot menjadi kaku, beberapa kejang memiliki gejala yang jauh lebih halus. Jenis kejang ini disebut juga sebagai absence seizures dan paling umum terjadi pada anak-anak antara usia lima sampai sepuluh tahun.

Anak-anak yang menderita absence seizures ini biasanya mengalami kesulitan dalam belajar sehingga membuat orangtuanya berkonsultasi dengan dokter. Absence seizures melibatkan hilangnya kesadaran yang bersifat sementara dan tiba-tiba. Ketika seorang anak sedang mengalami absence seizures, anak tersebut dapat terlihat bengong menatap ke ruang kosong atau tiba-tiba pingsan dan hal tersebut berlangsung dalam hitungan detik. Banyak anak yang mengalami absence seizures tidak menjalani perawatan karena guru dan orang tua mereka sering tidak sadar akan apa yang mereka alami. Mengetahui hal ini, akan sangat bermanfaat apabila kita dapat membuat orang lain sadar akan jenis kejang yang bersifat sangat halus ini, dan untuk amannya selalu waspada dan awasi anak anda.

Posted by Bumrungrad International