Aritmia Jantung

Aritmia Jantung

Mengapa pada beberapa kasus, jantung terasa sekilas melewatkan detaknya?

“Kebanyakan pasien aritmia baru  menyadari bahwa mereka memiliki kondisi tersebut saat mereka melakukan check-up kesehatan secara rutin atau sedang melakukan perawatan untuk kondisi yang lain” Dr. Kriengkrai Jirasirirojanakorn (the translation to above quote) 
Meskipun kebanyakan aritmia jantung adalah sebuah kejadian medis yang bersifat minor, penting bagi anda untuk mengetahui penyebab dan bagaimana cara mencegahnya agar jantung anda dapat bekerja secara baik untuk jangka waktu yang lama.
Banyak novel dan juga film mempopulerkan sebuah pandangan bahwa jantung yang berdebar-debar menandakan perasaan romantis ataupun cinta pada pandangan pertama. Padahal  kenyataannya, detak jantung yang tidak teratur tersebut adalah sebuah kondisi medis yang dikenal dengan nama aritmia. Aritmia merupakan salah satu kelainan jantung yang paling sering dijumpai tidak hanya di Thailand namun juga di seluruh dunia.
 
Meskipun kebanyakan aritmia dapat ditangani dan tidak begitu berdampak signifikan pada kesehatan pasien di masa depan, kasus-kasus yang lebih serius dapat berpotensi membahayakan jiwa dan membutuhkan perhatian medis sesegera mungkin. Untuk memahami kondisi ini secara lebih lanjut dan bagaimana cara mencegahnya, Better Health berbincang dengan Dr. Kriengkrai Jirasirirojanakorn, seorang kardiologis spesialis bidang electrophysiology jantung dari Bumrungrad Internasional yang telah memiliki pengalaman bertahun-tahun dalam menangani pasien yang memiliki detak jantung tidak teratur.
 
Apakah yang dimaksud dengan aritmia?
Aritmia Jantung adalah sebuah ancaman kesehatan yang masuk ke dalam kategori “equal opportunity”, semua orang mulai dari mereka yang tua sampai yang muda memiliki kemungkinan yang sama untuk mengalami kondisi tersebut. Saat diagnosa ditemukan, banyak dari penderita aritmia memiliki kondisi fisik yang prima dan bahkan belum pernah mempunyai sejarah adanya permasalahan jantung sebelumnya.
 
Aritmia dideskripsikan sebagai jantung yang berdetak secara tidak wajar – terlalu cepat, terlalu lambat, atau berdetak secara tidak teratur. “Ritme detak jantung diatur oleh sinyal elektrik yang bergerak dari bilik kanan atas jantung menuju ke bilik kiri atas, kemudian turun ke bilik bagian bawah” Dr. Kriengkrai menjelaskan. “Sinyal tersebut memberitahu jantung kapan waktunya untuk berkontraksi dan kapan waktunya untuk memompa darah keluar ke sistem peredaran tubuh, Sistem elektrik tersebut akan membuat penyesuaian secara halus dalam pola detak jantung sesuai dengan respons yang timbul dari faktor eksternal, seperti ketika tingkat aktivitas seseorang berubah.”
 
Sebuah jantung yang sehat berdetak 50 hingga 100 kali setiap menitnya ketika beristirahat. Ketika pasien memiliki aritmia jantung, jantung dapat berdetak lebih cepat, lebih lambat, atau terasa seperti melewatkan beberapa detakan. “Detak jantung yang tidak teratur dapat dipicu oleh kelainan yang terjadi pada proses pemberian isyarat elektrik jantung,” catat Dr. Kriengkrai.
“Dalam kasus yang lain, asal masalahnya dapat pula disebabkan karena kelainan pada jalur elektrik jantung. Ritme detak jantung yang tidak normal dapat secara cepat menghalangi fungsi sistem sirkulasi  tubuh yang sehat.”
 
Bagian atas dan bawah
atrial-fibrillation-indonesia-treatment.jpg
Aritmia dapat berasal dari bilik jantung bagian atas maupun bawah. Dalam kasus yang serius, misalnya pada pasien yang mengalami aritmia ventricular tachycardia yang berasal dari bilik bawah jantung, hal ini dapat membahayakan nyawa pasien, terutama jika pasien tersebut tidak mendapat perhatian medis sesegera mungkin.
 
Jenis aritmia yang paling umum ditemui adalah atrial fibrillation yang berasal dari bilik jantung bagian atas. Meskipun secara umum jenis ini tidak bersifat membahayakan nyawa pasien, kondisi tersebut tetap memerlukan perhatian medis untuk mencegah komplikasi yang serius seperti gagal jantung maupun stroke.

Penyebab dan gejala aritmia 

Meskipun kondisi tersebut memiliki potensi yang bersifat seriuskebanyakan pasien aritmia baru  menyadari bahwa mereka memiliki kondisi tersebut saat mereka melakukan check-up kesehatan secara rutin atau sedang melakukan perawatan untuk kondisi yang lain.
 
Apabila aritmia dapat terdeteksi secara dini, penanganannya cenderung memiliki tingkat kesuksesan yang lebih tinggi. Dr. Kriengkrai mengingatkan pasien tentang pentingnya pendeteksian secara dini dan mendorong mereka untuk selalu waspada dalam mengamati tanda dan gejala yang ada. “Gejala yang paling umum terjadi bagi penderita aritmia adalah kepala terasa pusing, dada terasa nyeri, sensasi berdebar-debar di dalam dada, susah bernafas, dan juga pingsan.”, kata Dr. Kriengkrai. “Situasi tersebut dapat secara cepat memburuk apabila pasien tidak segera mendapat penanganan medis.” 

Mencegah terjadinya faktor pemicu  

Salah satu cara untuk mencegah terjadinya aritmia adalah menghindari faktor eksternal yang dapat merangsang kinerja jantung secara berlebihan. “Ketidaknormalan pada detak jantung dapat dipicu oleh faktor eksternal,” Dr. Kriengkrai menjelaskan. “Faktor yang paling umum adalah konsumsi kopi yang berlebihan, stress, dan juga penggunaan beberapa jenis obat-obatan tertentu. Aritmia yang disebabkan oleh pemicu eksternal biasanya tidak berkemungkinan untuk menjadi serius dan dapat dicegah apabila anda menghindari faktor pemicunya.” 
 
Faktor internal seperti berbagai kondisi medis dapat juga menjadi pemicu detak jantung yang tidak beraturan. Dalam banyak kasus, kami dapat menemukan masalahnya pada abnormalitas struktur jantung,” kata Dr. Kriengkrai. “Penyebab yang paling umum termasuk juga penyakit jantung bawaan, permasalahan katup jantung, penyakit arteri koroner, hypertrophic cardiomyopathy, dan juga serangan jantung.” 

Diagnosis dan pendeteksian

Mendiagnosa aritmia jantung memerlukan pengalaman dan juga fleksibilitas. Elektrokardiogram (EKG) umumnya digunakan untuk mendeteksi aritmia, namun karena aritmia memiliki sifat yang unik kadang diperlukan pengetesan dengan metode yang lain. EKG kadang tidak dapat mendeteksi adanya permasalahan apabila gejala aritmia tidak muncul ketika tes sedang dilakukan.
 
“Hasil awal yang menunjukkan tidak adanya abnormalitas bukan berarti tidak ada permasalahan yang sedang terjadi,” kata Dr. Kriengkrai. “Beberapa jenis tes diagnosa mampu mendeteksi sumber permasalahan detak jantung meskipun EKG tidak mampu mendeteksinya.”
 
Tes yang biasa digunakan termasuk: stress test; Holter test dimana aktivitas elektrik di sistem kardiovaskular akan dipantau secara terus menerus dalam periode 24 sampai 48 jam; tes elektrofisiologi jantung dimana kateter berukuran kecil akan dimasukkan ke dalam pembuluh darah dan diarahkan menuju posisi yang tepat di bilik jantung bagian atas dan bawah. Kateter tersebut akan merekam informasi konduksi elektrik yang menginformasikan dokter dimana letak pasti dari asal sumber aritmia.

Pengobatan aritmia

Beberapa jenis aritmia dapat sembuh dengan sendirinya tanpa membutuhkan perawatan apapun. Dalam kasus dimana pengobatan dianggap perlu, menentukan cara pengobatan yang paling tepat membutuhkan pengecekan kondisi kesehatan pasien secara menyeluruh, sifat dan juga tingkat keparahan gejala yang ada, mengecek adanya permasalahan kesehatan lain yang mungkin mempengaruhi kondisi detak jantung, dan juga melengkapi tes kecocokan untuk tiap alternatif pengobatan agar dapat mengkonfirmasi cara penanganan yang paling tepat bagi tiap individu pasien. 
 
Pengobatan yang paling umum dilakukan bagi aritmia misalnya:
 
Menggunakan obat-obatan: Banyak dari pasien yang menderita aritmia dapat diobati hanya dengan menggunakan obat-obatan saja. Meskipun cara ini tidak memberikan kesembuhan yang bersifat permanen, obat aritmia memiliki sejarah yang sangat baik dalam hal keamanan dan juga efektifitas untuk menangani frekuensi terjadinya aritmia dan juga untuk membatasi tingkat keparahan gejala yang ditimbulkan;
 
Kardioversi: Pengobatan ini melibatkan adanya alat eksternal yang mengirimkan sinyal elektrik ke jantung yang nantinya akan mengubah detak jantung yang tidak beraturan kembali ke ritmenya yang normal;
 
Terapi Ablasi: Saat melakukan perawatan dengan konduksi elektrik ini, seorang dokter spesialis elektrofisiologi jantung akan mengimplan kateter kecil kedalam pembuluh darah dan memandunya menuju area yang bermasalah. Gelombang radio berfrekuensi tinggi akan dikirimkan melalui kateter untuk menghilangkan jaringan abnormal yang mengganggu detak jantung yang normal. Pengobatan ini telah menunjukkan hasil kesembuhan secara permanen bagi beberapa jenis aritmia;  
 
Alat Pacu Jantung: Sebuah alat pacu jantung berukuran kecil akan ditaruh pada bagian bawah kulit dekat dengan tulang clavicle. Alat ini akan memantau ritme jantung dan memancarkan impuls elektrik ketika jantung membutuhkan rangsangan untuk dapat berdetak secara sehat;
 
Implan defibrillator kardioverter: Pengobatan ini menggunakan alat yang mirip dengan alat pacu jantung bagi pasien yang memiliki ventricular fibrillation yang mengancam jiwanya. Ketika detaknya menjadi terlalu lambat, alat tersebut akan memancarkan sebuah sinyal yang menginstruksikan jantung supaya dapat mengikuti ritme yang normal. Jika jantung berdetak terlalu cepat, alat tersebut akan memancarkan sinyal yang merubah detak jantung yang terlalu cepat kembali melambat ke detaknya yang normal.  

Ambil kendali dan cegah faktor resikonya

Meskipun tidak ada metode yang dapat menjamin pencegahan aritmia secara menyeluruh, anda dapat secara signifikan menurunkan resiko artitmia anda dengan mengikuti tiga cara pendekatan jangka panjang berikut ini:
  • Hindari faktor pemicu seperti konsumsi kafein dan juga alkohol secara berlebihan, kebiasaan merokok, dan juga tekanan stres;
  • Biasakan berolahraga dan mengkonsumsi nutria yang lebih sehat;
  • Ikuti saran dokter untuk mengikuti tes kesehatan secara rutin.
Dengan usaha yang anda lakukan, niscaya jantung anda akan dapat berdetak secara sehat untuk bertahun-tahun yang akan datang.
 
 
Posted by Bumrungrad International